Bermain Kata

Mengikuti permainan yang dulu pernah dilakukan Hasan Aspahani, M Aan Mansyur, Dedy Tri Riyadi, Steven Kurniawan, Ramon Damora, dan siapapun, saya dan Kiki bermain-main kata lewat YM. Kami saling melempar kata untuk dibuat jadi puisi, atau apapun. Kata dari Kiki: pita, stasiun, jendela, arloji, radio, sedangkan kata dari saya: gelas, jalangkung, pohon jeruk, setrika, kereta. Ini hasil dari saya, hasil dari Kiki bisa dibaca di sini.

Kisah Untuk Penyair Tua

Ia seorang penyair yang kesepian di masa tuanya. Satu demi satu waktu dipetiknya dari kecut pohon jeruk di samping rumah. Sepanjang malam ia hanya mendengarkan siaran radio dua band melantunkan lagu-lagu nostalgia. Disela penyiar radio terbatuk-batuk ia seperti mendengar suara mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarnya. Ia tak tahu siapa. Ia juga tak ingin tahu siapa. Ia tahu siapapun di luar tak ada bedanya. Ia ingin membuka jendela dan berkata seperti yang dulu pernah dikatakannya “tunggu sebentar saya sedang keluar”, tapi tak bisa. Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, ia hanya ingin sendirian dalam kamar sambil menunggu kata-kata lahir dari tangannya.

Ia tak banyak berkata-kata, sungguh. Ia takut setiap kata dari mulutnya menjadi berhala. Saya bukan nabi, katanya pada diri sendiri, tepat ketika cermin yang ditatapnya mengingatkannya kepada mendiang isterinya yang dulu tiap pagi selalu menyiapkan sepasang sepatu, dasi, kemeja licin digilas setrika, untuk dipakai kerja, dan bilang “sudah siap menggembala kata ya?”. Padahal ia tidak kemana-mana. Ia tahu isterinya memang perhatian dan bersetia kepadanya seperti ketika suatu senja ia tiba-tiba saja berada di stasiun kereta, isterinya bersedia menjemputnya pulang dengan payung di tangan kanan meskipun hari tidak hujan. Mereka menyeberang jalan yang penuh gegas kendaraan dengan tangan saling genggam seperti ada pita yang menautkan antara keduanya.

Ia tak tahu kenapa mengingatnya bayang-bayang mendiang isterinya seperti memanjang di belakangnya. Membelai rambut putihnya, mengelus kerut tengkuknya. Membuat tangannya bergetar hingga gelas kopi di atas meja tulisnya tersepak dan jatuh berserak. Suara pecah memukul gendang telinganya yang sudah tak begitu peduli kepada suara-suara. Suara berita televisi yang dipenuhi derita atau cerita koran harian baginya sama saja. Ia tahu semuanya serupa mantra jalangkung, “datang tak diundang pulang tak diantar”. Hingga ia gemetar mendengar lirih tik-tok arlojinya dan ketukan-ketukan di kaca jendela kamarnya yang makin keras. Sebab tiba-tiba ia merasa hujan turun deras. Seperti malam ini ketika ia hanya ingin menangis diam-diam tanpa ada yang bertanya kenapa.

(2009)

Nasib Seorang Penyanyi Dangdut Yang Pulang Kemalaman Sehabis Mengisi Acara Kampanye Partai Di Alun-alun Kota, Yang Bergoyang Seperti Gasing Ditengah Bising Janji-janji Yang Membuatnya Mual Tapi Tetap Harus Tersenyum, Bernyanyi, Dan Terus Bergoyang Sebab Ia Adalah Profesional

tubuh telanjangnya terlentang di pinggir jalan

(2009)

Batu Di Pinggir Jalan

Ia sendiri di tengah bising pagi; deru kendaraan di atas jalan ketika ada yang tak berhasil ia indera dengan benar; pohon dan burung-burung tak lagi bernyanyi. Di telinganya setiap suara mati ditikam udara. Hitam asap knalpot membuat matanya berair dan akhirnya benar-benar padam di suatu malam. Di matanya setiap cahaya berubah jadi layar hitam.

Di jalanan, batu buta dan tuli amatlah menyusahkan. Tabrakan siap mengancam tiap wajah kendaraan. Setiap pejalan memandang batu di tengah jalan dengan curiga; ia bisa saja melayangkan sembilan nyawa ketika roda kendaraan yang laju selip; tubuhnya oleng dan retak berserak; hingga petugas lalu lintas lekas menyepaknya ke pinggir. Di tubuhnya setiap gerak menyingkir.

(2009)

Sepasang Sepatu Dan Sepasang Percakapan

/1/
saya curiga kepada sepasang sepatu tuaku itu…

sepasang mataku memandang panjang tali keduanya
yang tak sama; yang kiri empat centi lebih pendek dari
yang kanan sehingga aku tak paham kenapa mereka
masih bersetia berjalan beriringan sampai sekarang

-sepasang sepatu yang tak pernah kenal hitam aspal
atau marka jalan; sepasang sepatu yang gegas tanpa
mau diatur lampu lalu lintas sehingga aku terkadang
was-was dengan perangai keduanya sampai sekarang-

/2/
saya curiga kepada sepasang mata rabunmu itu..

entah sepatu kiri atau kanan yang baru saja bicara sebab
aku tak bisa membedakan nada suara antara keduanya;
mereka sama-sama mengeluarkan kata-kata yang sulit
dicerna sepasang telingaku yang terganggu bunyi hujan

-entah bunyi hujan atau kata salah satu dari dua sepatuku
yang berdosa saat aku selalu gagal menghapal doa-doa
dan menimbang warna cuaca; mana hujan, mana kemarau
agar sepasang kakiku tidak meninggalkan jejak parau-

(2009)

Salam Perkenalan Untuk Pak Tua Pembuat Sepatu

bolehkah saya bertamu? tenang saja, saya bukan
Tuhan, jadi jangan bilang sedang keluar

saya cuma ingin bertemu dengan para sepatu

(2009)

Halte

“adakah yang lebih laju dari waktu?”, tanyamu
saat kita tak sengaja berjumpa di halte tua ketika
menunggu bus yang sama (entah kenapa bus itu
tak kunjung datang sementara antara diriku
dan dirimu bayang-bayang mulai memanjang)

“adakah yang lebih laju dari waktu?”, tanyamu..

(2009)

Perjalanan Kereta

saatnya menyusun dirimu dengan segala cemas
ingatan, barangkali cuma kereta. jalan bercecabang
menyusun peta masa lalu; tapi kereta hanya bersetia
pada satu jalur dan segera berlalu; ke stasiunMu

cemas berakar dari gegas musim hujan, mungkin.
tapi ujung jalan belum di mata hingga aku tak bisa
membantumu menghitung berapa kereta yang lewat
membawa serpih-serpih dirimu; menuju stasiunMu

(2009)

Lengking Kereta Panjang Sekali

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya tergila-gila dengan kereta. Padahal naik kereta saja jarang. Saya lebih sering bepergian dengan bus atau motor. Hmmm..mungkin kejadian kecil di masa lalu membuatku jatuh cinta dengan kereta, stasiun, dan….

Lengking Kereta Panjang Sekali

Suara tut-tut-tut panjang itu mengagetkanku. Senja tiba, malam sepertinya segera menyusul. Dari kursi panjang di peron terlihat cahaya keemasan masuk lewat udara lembab dari ujung barat, menusuk halus lantai stasiun yang dingin. Temaram lampu mulai menghiasi sudut-sudut stasiun. Suara tut-tut-tut makin nyaring terdengar. Kereta hampir datang.

Pengumuman kedatangan kereta keluar dari pengeras suara di depan ruangan petugas jaga. Pengunjung stasiun diminta menjauh dari rel jalur dua. Kereta dari Ibukota segera memasuki stasiun. Sejenak kemudian, setelah kereta berhenti, rombongan manusia berdesak-desakan turun dari pintu kereta. Beberapa tersenyum melihat penjemputnya sudah menunggu, beberapa mulai menyusun kenangan-kenangan lamanya di kota ini, beberapa langsung berjalan tergesa dengan ekspresi yang tak jelas. Stasiun mendadak ramai, namun hanya untuk sementara. Setelahnya, saat orang-orang yang menganggap stasiun hanya sebagai tempat persinggahan itu berlalu, hanya tersisa para pedagang duduk di emperan, tukang semir, dan beberapa anak kecil gelandangan berlarian kesana-kemari.

Dari lorong yang tersambung dengan pintu masuk stasiun, ketukan-ketukan langkah cepat menganggu lamunanku. Aku menoleh, dia tersenyum, aku ikut tersenyum. Dia orang yang kutunggu.

“Dari kapan?”

Berkata begitu perempuan itu kemudian duduk di sampingku.

“Sudah lama nunggunya?”

“Duapuluh menit”, kataku.

“Rokok?”

Aku mengambil sebatang. Dia sebatang. Kepulan asap keluar dari bibir kami seperti uap kereta jaman dulu.

“Bagus ya keretanya?”

Aku mengangguk.

***

Entah kenapa aku sangat menyukai kereta. Dulu, waktu kecil, bapak sering mengajakku melihat kereta. Aku melonjak-lonjak melihat kuda besi itu melintas cepat di hadapanku, dipisahkan palang jalan. Angin kereta menerpa rambutku, kulambaikan tangan kepada para
penumpang. Saat itu menurutku kereta adalah benda yang paling kuat, cepat, dan harus selalu didahulukan. Kata bapakku, kereta melambangkan kerasnya tekad untuk meraih cita-cita. Meski ketika itu aku tidak paham benar maksud ucapan bapak, namun aku merasa perkataannya itu ditujukan untuk menuntun jalan hidupku. Kini, setelah bertahun-tahun bapak pergi entah kemana, ingatan itu masih jelas mendekam. Seperti ingatanku tentang pertemuanku dengan perempuan itu, tiga bulan lalu.

Dia menghampiriku begitu saja waktu aku sedang menikmati bunyi kereta.

“Suka kereta?”, katanya yang segera kujawab dengan anggukan, juga tanda untuk mempersilakan dia duduk di kursi yang sama denganku.

“Aku juga suka kereta”, katanya lagi, tanpa pernah kutanya.

Sejak saat itu, kami makin sering bertemu. Sekedar berbagi cerita tentang kecintaan kami masing-masing dengan kereta. Di sore hari, sepulang kerja, aku menuju stasiun kereta. Di sana, biasanya dia sudah menungguku di kursi tunggu, di sayap utara stasiun. Hingga malam, kami akan saling bercerita. Tentang apa saja. Aku senang dengan suaranya. Renyah. Saat dia bercerita, kata-katanya meluncur secepat kereta, tak mau berhenti. Mendengarnya, aku hanya diam, memandang matanya, dan sesekali tersenyum.

“Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik”, katanya.

Aku mengangguk.

***

Handphone di samping bedlamp bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Aku meraihnya setengah hati sambil mengutuki siapa yang menelpon dinihari. Sebuah nama yang begitu kukenal muncul di layar ponsel, aku berusaha mengusir kantuk dengan mengucek mata dan menyandarkan punggung di tembok kamar.

“Halo…”

Tak ada jawaban. Sayup-sayup terdengar suara orang menangis tertahan.

“Halo..”

Masih tak ada jawaban.

“Halo. Kenapa?”

Hanya isakan yang kudengar. Naik-turun, pendek-pendek. Hingga aku merasa hanyut. Aku hanya tahu ada sesuatu, tapi tak tahu sesuatu itu apa. Mungkin saja dia hanya ingin aku tahu dia ada masalah, tapi tak ingin aku tahu apa masalahnya. Aku juga tak ingin memaksa untuk tahu. Kutunggu sampai dia berhenti terisak.

“Besok ketemu di tempat biasa”, katanya patah-patah, dan segera kuiyakan.

Ponsel kututup. Aku menghela nafas panjang. Berbaring lagi di ranjang dan berusaha memejamkan mata. Tapi tangisan tertahan itu masih terngiang. Samar-samar aku melihat wajahnya tergambar di langit-langit kamar, wajah perempuan itu.

***

Pagi datang, dan aku belum sempat memejamkan mata. Rasa-rasanya suara isak tangisnya masih berusaha masuk di daun telinga, tapi tertahan oleh suara adik kembarku, Ajisaka dan Ajidarma.

“Selamat pagi kakak yang jelek”

“Selamat pagi juga adek-adekku yang nakal”

“Hus, jangan saling menjelek-jelekkan”, kata ibu dari dapur. Aku dan kedua adikku terkekeh.

Makan pagi adalah ritual kami; aku, ibu, dan kedua adikku. Saat makan pagi itulah biasanya kamu akan saling bercanda, melemparkan guyonan-guyonan segar. Dua adikku yang duduk di bangku SMA itu selalu memberikanku pertanyaan yang konyol, yang tentu saja jawabannya juga konyol. Seperti misalnya, ‘kenapa leher jerapah panjang?’. Jika kujawab ‘karena sudah begitu sejak diciptakan’, keduanya akan menggeleng dan tersenyum penuh kemenangan, kemudian menjawab: ‘karena jarak antara badan dan kepalanya jauh!’. Kami kemudian akan tertawa. Sedangkan ibu, seperti biasanya hanya tersenyum simpul.

Sejak kepergian bapak, ibu menjadi jarang tertawa. Mungkin karena itulah aku dan kedua adikku sering berusaha membuatnya tertawa dengan hal-hal kecil dan konyol seperti itu. Tetapi ibu lebih sering menanggapinya dengan senyum. Melihat senyum itu saja, aku sudah lega. Aku sering memandangi wajah ibu saat tersenyum.

“Kenapa Handa?”

“Ndak ada apa-apa Bu”, kilahku saat ibu tahu aku memandangi wajahnya. Lagi-lagi ibu tersenyum kecil. Melihat senyum ibu, aku teringat senyumannya, senyuman perempuan itu.

***

“Aku pulang terlambat Bu”, kataku, kemudian menutup handphone, mengakhiri pembicaraan. Aku memang harus membuat alasan pulang terlambat, karena akan menemuinya. Menemui perempuan itu di stasiun, tempat yang kujanjikan semalam.

Hari ini banyak kerjaan di kantor, hingga baru jam sepuluh malam aku ke stasiun. Dari tempat kerjaku, aku tinggal mengambil jalan ke barat, kemudian lurus ke selatan untuk mencapai stasiun. Mungkin dia telah menunggu, pikirku. Di pintu stasiun, perempuan itu memang telah menungguku.

“Kita jalan-jalan saja ya”, katanya.

Aku menitipkan motor di tempat parkir stasiun, dan kami bedampingan berjalan ke selatan. Kami menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Kawasan pertokoan yang hingar bingar di siang hari itu seperti kehilangan nafasnya. Pertokoan di kanan-kiri jalan sudah tutup. Hanya satu dua pedagang lesehan yang masih bertahan. Dalam sepi, dalam diam, tiba-tiba tangannya meraih tanganku, kepalanya disandarkan di bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya, meluncur diantara bedak yang diusapkan secara agak berlebihan. Saat itulah aku ingin bertanya ‘ada apa?’ kepadanya, tapi urung ketika kurasakan genggaman tangannya makin erat. Aku tak ingin memaksanya untuk segera bercerita. Dia diam dan hanya sesekali mengusap lelehan air matanya.

Kami terus berjalan ke selatan, dibungkus cahaya yang temaram dari lampu jalan. Di taman kota kami kemudian berhenti. Duduk di kursi beton, menghadap rimbun pepohonan. Kumpulan kunang-kunang terbang, menyeruak di antara tanaman perdu, bagai lampion ditiup angin malam. Di bawah remang lampu jalan, perempuan di sampingku itu kini mulai terisak. Ketika aku ingin menanyakan lagi ‘ada apa?’ kepadanya, lagi-lagi dia mendahului dengan melingkarkan tangannya ke pinggangku, kepalanya menyuruk di dadaku. Dia mulai menangis sesenggukan. Kuperhatikan air mata membanjir di pipinya, membasuh bedak yang menutupi kulit wajahnya; ada bekas-bekas bilur biru di situ. Perlahan-lahan, aku mulai mengerti apa yang telah terjadi.

“Laki-laki itu ya..”, kataku kemudian.

Dia mengangguk lemah. “Kami akan bercerai”, katanya lirih.

Dadaku berdesir pelan. Seperti dielus tangan-tangan malam.
Selama dua jam selanjutnya dia banyak bercerita, meski seringkali terhenti oleh isak tangisnya. Seperti biasa aku banyak mendengarkan saja. Mungkin dalam kisah ini aku memang cukup menjadi pendengar yang baik. Dua jam berlalu, kami masih terduduk di kursi beton itu. Perempuan di sampingku itu sepertinya sudah tidak sanggup berkata lagi. Dia diam, aku diam. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Menatap matanya yang kosong. Seolah ruang hampa yang ingin diisi dengan cahaya. Celah dingin yang ingin diselimuti kehangatan.
Angin malam menerbangkan kunang-kunang. Salah satunya terbang di sekitar kami. Kelap-kelipnya seakan-akan mengambarkan pikiranku yang melayang-layang.

“Kamu harus pulang”, kataku kemudian memecah keheningan.

Lamat-lamat dia berhenti terisak.

“Pulang?”

“Iya”

“Tapi, kemana?”

***

Kami kembali berjalan dalam diam di trotoar jalan kota. Sepi sekali di malam hari. Pedagang lesehan bahkan sudah tidak ada lagi. Kami terus berjalan lurus ke utara, menuju stasiun. Di ujung jalan, di depan stasiun, langkah kami terhenti sejenak. Saat itulah dari arah stasiun aku mendengar lengking kereta panjang sekali.

Tiba-tiba aku ingat ibuku.

Jogjakarta, 2009

Sepuluh hal tentangmu

Aku ingin menuliskan dua puluh lima hal tentangmu, tapi entah kenapa angka dua puluh lima itu selalu mengingatkanku padanya. Akhirnya kutuliskan saja sepuluh hal; angka yang selalu diinginkan bapak-ibuku dalam ulangan harian, tapi tak pernah kudapatkan. Semoga sepuluh hal ini mampu menjadi pengganti untuk itu, untuk mereka, untuknya, untukmu, atau untuk siapapun.

/1/
Kamu bukan malaikat. Malaikat telah mati di hari ketika ayahmu pergi dan kamu tak ingin lagi mengenal lelaki lain -termasuk aku?-, sebab yang hilang di pintu belakang tidak serta merta bisa digantikan yang datang di pintu depan. Harus ada rumah seramah masa kecilku, katamu. Karenanya aku bersetia memanggilmu malaikat kecil sebagai penanda bahwa masa lalu tidak melulu berisi kenangan kesedihan.

/2/
Kamu tidak pernah punya banyak teman di waktu kecil. Kakimu terlalu mungil untuk berlari mengejar kupu atau bermewah-mewah bermain lumpur di sawah. Hanya ada dua sahabat yang tak pernah lelah menemanimu; resep dokter dan bau obat yang membuatmu kerap tersesat di antara dua dunia; maya dan nyata. Sesungguhnya, menurutku, keduanya tak banyak beda. Kita hanya terlalu angkuh mengakui bahwa yang fantasi itulah yang sejati. Yang abadi.

/3/
Kamu selalu bermimpi menjadi Alice di Negeri Ajaib. Sejak dulu kamu senang dengan hal-hal gaib. Ketika kita duduk bersama menikmati senja di balik cakrawala, kamu tak ragu memainkan telunjuk, menunjuk, dan berseru; “Lihat itu pegasus, itu centaur, itu orge, itu goblin, itu..”. Dan aku hanya tertawa sambil meneteskan air mata. Bukankah demikian, kita kadang tak bisa membedakan antara kesedihan dan kebahagiaan dengan benar. Keduanya berjarak terlalu tipis.

/4/
Kamu percaya tiap orang punya kisah sedih untuk diceritakan. Bahkan sedikit banyak kesedihanku pernah kuceritakan padamu. Lewat mimpi tidur siang yang singkat, lewat gerak angin yang lesat, lewat surat-surat di bawah kasurku dalam keadaan masih terlipat. Lewat kalimat-kalimat yang tak mampu digerakkan kata-kata, sebab katamu, kamu lebih mampu membaca kalimat-kalimat dalam gerak isyarat.

/5/
Kamu jatuh cinta berkali-kali tapi tak pernah begitu cinta seperti cintamu pada puisi. Puisi bagimu mungkin seorang lelaki yang menuntun lelah langkahmu. Puisi mungkin senja yang menggantikan warna biru dengan jingga untuk kemudian diganti lagi dengan hitam namun selalu tersenyum. Puisi mungkin menyusun tubuhmu dari kosa kata yang tak lecek dimakan jaman. Sehingga kusangka benar yang dikatakan para penyair; puisi adalah kesetiaan itu sendiri.

/6/
Kamu menulis untuk merapikan kamar-kamar pikiran. Serupa kata penulis yang aku kagumi; menulis adalah salah satu usaha untuk selangkah menjauh dari kamar rumah sakit jiwa. Menulis barangkali upaya mengenali sepotong wajah muram dalam cermin buram; menyusun potongan-potongan ingatan. Meskipun demikian, hal sesederhana itu kadang menjadi hampir mustahil, rumit dan sulit bagiku. Hingga aku sering bercengkerama dengan kekalahan dan kelelahan tiap malam. Sendirian.

/7/
Kamu sangat dekat dengan air mata. Kamu sedih menjadi saksi muka televisi yang marah tiap hari. Kamu terharu menyaksikan sepasang kursi tua berpelukan di gudang belakang. Bahkan ketika kamu marah melihat kota dikepung api atau bahagia menerima kado bersampul merah, kamu tetap menagis. Karenanya aku curiga tubuhmu ditumbuhi mata air air mata di tiap jengkalnya.

/8/
Kamu begitu bahagia sebab tak lagi ingin menghisap rokok kretek yang selama ini kamu sukai. Menurutku sudah seharusnya begitu. Rokok itu sahabat yang diam-diam mengincar paru-parumu. Tapi jangan curiga dulu; aku bukan MUI yang melarang dan mewajibkan hal-hal yang menggelikan. Seperti mengancam kita dengan neraka jika tak mau mencentang nama badut-badut yang wajahnya terpampang di sepanjang jalan.

/9/
Kamu seperti cuaca. Inginmu berganti setiap saat. Meski saat ini aku bingung dengan perangai cuaca di negeri ini. Hujan kadang datang di musim kemarau, kerontang datang di musim hujan. Tak pernah pasti seperti kata para politisi di televisi yang selalu berganti-ganti setiap hari. Aku pikir benar kata para pakar; tak ada sesuatu yang abadi di dunia ini.

/10/
Kamu pernah bercita-cita menjadi guru tapi perahu waktu menambatkanmu menjadi pasir di pantai perguruan tinggi. Tak apalah; tak semua cita-cita harus terwujud. Pantai tak kan indah tanpa pasir berserakan, bukan? Tak semua doa harus dikabulkan, bukan? Tuhan maha tahu. Kita maha sok tahu.

Semoga juga kata-kata sok tahu dariku ini tak jadikan dirimu, dirinya, atau siapapun merasa kecewa. Sebab sesunggunya aku hanya pesuruh kata-kata. Mereka ingin aku menuliskan dua puluh lima hal tentangmu, tapi aku hanya mampu menuliskan sepuluh saja. Begitu ya..

Untuk Penyair Kecil Yang Bicara Dengan Tuhan

aku buta atas jembut yang nyangkut di sela gigimu.
jembut purba yang menjemput sejumput kata dalam
pendek ingatan. kata-kata, barangkali lebih tajam
dari mandau, pisau, clurit, keris, tombak atau segala
senjata yang memanggil darah keluar dari tubuhNya.

aku tuli dengan suara gigilmu di sela ngilu gusimu.
gusi tempat gigi berderet kuning (emas atau tahi?)
yang tua oleh alkohol, rokok, dan ampas kopi. gigil,
barangkali hanya cocok untuk badan seorang anak
kecil yang ingin bicara dengan tuhan; memanggil
namaNya dan menungguNya menyahut. sahut, saut..

(2009)

Halaman Berikutnya »