Entah kenapa, akhir-akhir ini saya tergila-gila dengan kereta. Padahal naik kereta saja jarang. Saya lebih sering bepergian dengan bus atau motor. Hmmm..mungkin kejadian kecil di masa lalu membuatku jatuh cinta dengan kereta, stasiun, dan….
Lengking Kereta Panjang Sekali
Suara tut-tut-tut panjang itu mengagetkanku. Senja tiba, malam sepertinya segera menyusul. Dari kursi panjang di peron terlihat cahaya keemasan masuk lewat udara lembab dari ujung barat, menusuk halus lantai stasiun yang dingin. Temaram lampu mulai menghiasi sudut-sudut stasiun. Suara tut-tut-tut makin nyaring terdengar. Kereta hampir datang.
Pengumuman kedatangan kereta keluar dari pengeras suara di depan ruangan petugas jaga. Pengunjung stasiun diminta menjauh dari rel jalur dua. Kereta dari Ibukota segera memasuki stasiun. Sejenak kemudian, setelah kereta berhenti, rombongan manusia berdesak-desakan turun dari pintu kereta. Beberapa tersenyum melihat penjemputnya sudah menunggu, beberapa mulai menyusun kenangan-kenangan lamanya di kota ini, beberapa langsung berjalan tergesa dengan ekspresi yang tak jelas. Stasiun mendadak ramai, namun hanya untuk sementara. Setelahnya, saat orang-orang yang menganggap stasiun hanya sebagai tempat persinggahan itu berlalu, hanya tersisa para pedagang duduk di emperan, tukang semir, dan beberapa anak kecil gelandangan berlarian kesana-kemari.
Dari lorong yang tersambung dengan pintu masuk stasiun, ketukan-ketukan langkah cepat menganggu lamunanku. Aku menoleh, dia tersenyum, aku ikut tersenyum. Dia orang yang kutunggu.
“Dari kapan?”
Berkata begitu perempuan itu kemudian duduk di sampingku.
“Sudah lama nunggunya?”
“Duapuluh menit”, kataku.
“Rokok?”
Aku mengambil sebatang. Dia sebatang. Kepulan asap keluar dari bibir kami seperti uap kereta jaman dulu.
“Bagus ya keretanya?”
Aku mengangguk.
***
Entah kenapa aku sangat menyukai kereta. Dulu, waktu kecil, bapak sering mengajakku melihat kereta. Aku melonjak-lonjak melihat kuda besi itu melintas cepat di hadapanku, dipisahkan palang jalan. Angin kereta menerpa rambutku, kulambaikan tangan kepada para
penumpang. Saat itu menurutku kereta adalah benda yang paling kuat, cepat, dan harus selalu didahulukan. Kata bapakku, kereta melambangkan kerasnya tekad untuk meraih cita-cita. Meski ketika itu aku tidak paham benar maksud ucapan bapak, namun aku merasa perkataannya itu ditujukan untuk menuntun jalan hidupku. Kini, setelah bertahun-tahun bapak pergi entah kemana, ingatan itu masih jelas mendekam. Seperti ingatanku tentang pertemuanku dengan perempuan itu, tiga bulan lalu.
Dia menghampiriku begitu saja waktu aku sedang menikmati bunyi kereta.
“Suka kereta?”, katanya yang segera kujawab dengan anggukan, juga tanda untuk mempersilakan dia duduk di kursi yang sama denganku.
“Aku juga suka kereta”, katanya lagi, tanpa pernah kutanya.
Sejak saat itu, kami makin sering bertemu. Sekedar berbagi cerita tentang kecintaan kami masing-masing dengan kereta. Di sore hari, sepulang kerja, aku menuju stasiun kereta. Di sana, biasanya dia sudah menungguku di kursi tunggu, di sayap utara stasiun. Hingga malam, kami akan saling bercerita. Tentang apa saja. Aku senang dengan suaranya. Renyah. Saat dia bercerita, kata-katanya meluncur secepat kereta, tak mau berhenti. Mendengarnya, aku hanya diam, memandang matanya, dan sesekali tersenyum.
“Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik”, katanya.
Aku mengangguk.
***
Handphone di samping bedlamp bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Aku meraihnya setengah hati sambil mengutuki siapa yang menelpon dinihari. Sebuah nama yang begitu kukenal muncul di layar ponsel, aku berusaha mengusir kantuk dengan mengucek mata dan menyandarkan punggung di tembok kamar.
“Halo…”
Tak ada jawaban. Sayup-sayup terdengar suara orang menangis tertahan.
“Halo..”
Masih tak ada jawaban.
“Halo. Kenapa?”
Hanya isakan yang kudengar. Naik-turun, pendek-pendek. Hingga aku merasa hanyut. Aku hanya tahu ada sesuatu, tapi tak tahu sesuatu itu apa. Mungkin saja dia hanya ingin aku tahu dia ada masalah, tapi tak ingin aku tahu apa masalahnya. Aku juga tak ingin memaksa untuk tahu. Kutunggu sampai dia berhenti terisak.
“Besok ketemu di tempat biasa”, katanya patah-patah, dan segera kuiyakan.
Ponsel kututup. Aku menghela nafas panjang. Berbaring lagi di ranjang dan berusaha memejamkan mata. Tapi tangisan tertahan itu masih terngiang. Samar-samar aku melihat wajahnya tergambar di langit-langit kamar, wajah perempuan itu.
***
Pagi datang, dan aku belum sempat memejamkan mata. Rasa-rasanya suara isak tangisnya masih berusaha masuk di daun telinga, tapi tertahan oleh suara adik kembarku, Ajisaka dan Ajidarma.
“Selamat pagi kakak yang jelek”
“Selamat pagi juga adek-adekku yang nakal”
“Hus, jangan saling menjelek-jelekkan”, kata ibu dari dapur. Aku dan kedua adikku terkekeh.
Makan pagi adalah ritual kami; aku, ibu, dan kedua adikku. Saat makan pagi itulah biasanya kamu akan saling bercanda, melemparkan guyonan-guyonan segar. Dua adikku yang duduk di bangku SMA itu selalu memberikanku pertanyaan yang konyol, yang tentu saja jawabannya juga konyol. Seperti misalnya, ‘kenapa leher jerapah panjang?’. Jika kujawab ‘karena sudah begitu sejak diciptakan’, keduanya akan menggeleng dan tersenyum penuh kemenangan, kemudian menjawab: ‘karena jarak antara badan dan kepalanya jauh!’. Kami kemudian akan tertawa. Sedangkan ibu, seperti biasanya hanya tersenyum simpul.
Sejak kepergian bapak, ibu menjadi jarang tertawa. Mungkin karena itulah aku dan kedua adikku sering berusaha membuatnya tertawa dengan hal-hal kecil dan konyol seperti itu. Tetapi ibu lebih sering menanggapinya dengan senyum. Melihat senyum itu saja, aku sudah lega. Aku sering memandangi wajah ibu saat tersenyum.
“Kenapa Handa?”
“Ndak ada apa-apa Bu”, kilahku saat ibu tahu aku memandangi wajahnya. Lagi-lagi ibu tersenyum kecil. Melihat senyum ibu, aku teringat senyumannya, senyuman perempuan itu.
***
“Aku pulang terlambat Bu”, kataku, kemudian menutup handphone, mengakhiri pembicaraan. Aku memang harus membuat alasan pulang terlambat, karena akan menemuinya. Menemui perempuan itu di stasiun, tempat yang kujanjikan semalam.
Hari ini banyak kerjaan di kantor, hingga baru jam sepuluh malam aku ke stasiun. Dari tempat kerjaku, aku tinggal mengambil jalan ke barat, kemudian lurus ke selatan untuk mencapai stasiun. Mungkin dia telah menunggu, pikirku. Di pintu stasiun, perempuan itu memang telah menungguku.
“Kita jalan-jalan saja ya”, katanya.
Aku menitipkan motor di tempat parkir stasiun, dan kami bedampingan berjalan ke selatan. Kami menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Kawasan pertokoan yang hingar bingar di siang hari itu seperti kehilangan nafasnya. Pertokoan di kanan-kiri jalan sudah tutup. Hanya satu dua pedagang lesehan yang masih bertahan. Dalam sepi, dalam diam, tiba-tiba tangannya meraih tanganku, kepalanya disandarkan di bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya, meluncur diantara bedak yang diusapkan secara agak berlebihan. Saat itulah aku ingin bertanya ‘ada apa?’ kepadanya, tapi urung ketika kurasakan genggaman tangannya makin erat. Aku tak ingin memaksanya untuk segera bercerita. Dia diam dan hanya sesekali mengusap lelehan air matanya.
Kami terus berjalan ke selatan, dibungkus cahaya yang temaram dari lampu jalan. Di taman kota kami kemudian berhenti. Duduk di kursi beton, menghadap rimbun pepohonan. Kumpulan kunang-kunang terbang, menyeruak di antara tanaman perdu, bagai lampion ditiup angin malam. Di bawah remang lampu jalan, perempuan di sampingku itu kini mulai terisak. Ketika aku ingin menanyakan lagi ‘ada apa?’ kepadanya, lagi-lagi dia mendahului dengan melingkarkan tangannya ke pinggangku, kepalanya menyuruk di dadaku. Dia mulai menangis sesenggukan. Kuperhatikan air mata membanjir di pipinya, membasuh bedak yang menutupi kulit wajahnya; ada bekas-bekas bilur biru di situ. Perlahan-lahan, aku mulai mengerti apa yang telah terjadi.
“Laki-laki itu ya..”, kataku kemudian.
Dia mengangguk lemah. “Kami akan bercerai”, katanya lirih.
Dadaku berdesir pelan. Seperti dielus tangan-tangan malam.
Selama dua jam selanjutnya dia banyak bercerita, meski seringkali terhenti oleh isak tangisnya. Seperti biasa aku banyak mendengarkan saja. Mungkin dalam kisah ini aku memang cukup menjadi pendengar yang baik. Dua jam berlalu, kami masih terduduk di kursi beton itu. Perempuan di sampingku itu sepertinya sudah tidak sanggup berkata lagi. Dia diam, aku diam. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Menatap matanya yang kosong. Seolah ruang hampa yang ingin diisi dengan cahaya. Celah dingin yang ingin diselimuti kehangatan.
Angin malam menerbangkan kunang-kunang. Salah satunya terbang di sekitar kami. Kelap-kelipnya seakan-akan mengambarkan pikiranku yang melayang-layang.
“Kamu harus pulang”, kataku kemudian memecah keheningan.
Lamat-lamat dia berhenti terisak.
“Pulang?”
“Iya”
“Tapi, kemana?”
***
Kami kembali berjalan dalam diam di trotoar jalan kota. Sepi sekali di malam hari. Pedagang lesehan bahkan sudah tidak ada lagi. Kami terus berjalan lurus ke utara, menuju stasiun. Di ujung jalan, di depan stasiun, langkah kami terhenti sejenak. Saat itulah dari arah stasiun aku mendengar lengking kereta panjang sekali.
Tiba-tiba aku ingat ibuku.
Jogjakarta, 2009
Kata Mereka